RSS

Harry Potter And The Attachment Grandma (Part 2)

24 Apr

Chapter 3
The “Half Blood” Prince

Di lapangan utama, pertandingan Quidditch antara tim Hogwarts dan tim Merapi Jaya sedang berlangsung. Pertandingan ini jauh lebih ramai daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya, sebab pertandingan ini akan sangat menentukan kehormatan kedua sekolah yang saling bersaing itu. Pertandingan yang berjalan dengan sengit itu dipenuhi oleh sorak sorai penonton, terutama dari pendukung tim Merapi Jaya.

“Merapi Jaya, Merapi Jaya, ayoo bantai Hogwarts…! Merapi Jaya, Merapi Jaya… ayoooo bantai Hogwarts,” begitulah yel-yel para penonton.

Sementara itu, pendukung dari tim Hogwarts lebih banyak diam dan mendukung secara sembunyi-sembunyi, hal itu disebabkan karena para pendukung Hogwarts tiba-tiba saja mendapat surat ancaman misterius yang ditulis secara bilingual:

———————————————
-Surat Ancaman Bilingual-

Dalam Bahasa Indonesia: Dulu kalian pernah menjajah kami, namun sekarang… kalian masih menjajah negara kami. Namun setidaknya kami akan menjaga harga diri sekolah kami, dan oleh karena itu kami akan menang, apapun yang terjadi. Merapi Jaya adalah jiwa raga kami, darah daging kami! Kami yang miskin dan jarang bayar pajak ini rela mengeluarkan uang untuk menyokong tim Merapi Jaya. Kami rela berkelahi dan tawuran demi membela tim Merapi Jaya, mencorat-coret pagar, tembok dan bangunan lainnya. Dan oleh karena itu, kalau sampai Hogwarts menang, jangan harap kalian bisa pulang ke negara kalian dengan selamat! Kami akan mencincang kalian, mengirimkan santet atau teluh ke sekolah kalian! Kalian akan mandul tujuh turunan, sehingga untuk mencapai tujuh turunan itu kalian harus melakukan kloning. Kalian akan menderita serangan jantung, kanker, gangguan kehamilan dan janin, serta impotensi! Awas!

In English: I kill you! I kill you!

———————————————–

Di tengah lapangan, Harry Potter tampak begitu kewalahan. Ia sudah pernah bertanding dengan berbagai tim Quidditch dari negara-negara lain, namun belum pernah menghadapi lawan setangguh ini. Seperti beberapa waktu lalu, ia masih mampu mengalahkan tim Quidditch dari Arab yang bertanding menggunakan permadani terbang, tapi tim Quidditch dari Indonesia sungguh berbeda, mereka tidak menaiki sapu atau permadani, melainkan terbang begitu saja, mengendarai angin (seperti Voldemort).

Sementara itu, di sudut lapangan, Mak Lampir memperhatikan Harry yang sedang bertanding di atas sapu terbangnya. Kemudian ia mengangkat tongkat tengkoraknya setinggi bahu, memutarnya sampai ujung tongkat mengarah ke atas. Dari mata tengkorak di ujung tongkat itu, keluarlah sebuah sinar merah yang menyerupai garis lurus, sinar itu mengarah sampai ke atas, sampai membuat sebuah titik di dada Harry. Mak Lampir sedang membidik Harry. Harry menyadarinya ketika ia melihat sebuah titik merah yang mengikuti kemanapun ia pergi, dan ia pun menyadari dari mana sinar itu berasal.

“Amburadul!” Mak Lampir mengucapkan mantra.

Sebuah sinar hijau keluar dari tongkat Mak Lampir dan langsung melesat secepat kilat ke arah Harry, untungnya Harry sudah menyadarinya terlebih dahulu, sehingga ia masih sempat menghindar. Sinar hijau itu menghantam sapu terbang Harry dan merubahnya menjadi vacuum cleaner, Harry pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Tolooong!” Harry berteriak.

Di sudut lapangan yang lain, Dumbledore menyadari hal itu, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya. Dari tongkat sihirnya itu keluar sebuah sinar yang langsung membungkus Harry dan membawanya dengan selamat ke dekat Dumbledore berada.

“Te… terima kasih…,” nafasnya terengah-engah, “terima kasih Profesor Dumb.”

Plak. Jenggot Dumbledore menampar Harry.

“Kau tidak apa-apa? Aku tidak menyangka kalau ia akan langsung mengincarmu,” ucap Dumbledore polos.

“Siapa dia sebenarnya?” tanya Harry sambil memegangi pipinya yang merah.

“Dia adalah Attachment Grandma, seorang penyihir yang sangat kuat dan kejam. Mungkin kekuatannya setara dengan….,”

“Dengan siapa?”

“Dengan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, Tom Riddle alias Voldemort.”

“Tapi kau baru saja menyebutnya.”

“Aku lupa.”

“Berkali-kali?”

“Sudahlah. Ayo Harry, kita harus memperingatkan murid-murid yang lain sebelum keadaan menjadi gawat,” Dumbledore menoleh ke arah deretan bangku penonton yang diduduki oleh siswa-siswi Hogwarts.

Mak Lampir yang tadi berada di sudut lapangan, kini langsung terbang ke tengah-tengah arena Quidditch, “Bubar! Bubar kalian semua!,” ia tertawa selama tiga menit, “sekarang, tangkap Harry Potter!”

Para anggota tim Merapi Jaya yang sedang bertanding Quidditch segera menuruti perintah Mak Lampir untuk mengejar Harry dan mengabaikan pertandingan. Para supporter yang ganas pun juga dilepaskan dari penjara bertegangan tinggi yang mengurung mereka atas perintah Mak Lampir. Mereka semua mengejar Harry dan Dumbledore, mengeluarkan seluruh kemampuan sihir mereka untuk menyerang atau berubah wujud: menjadi naga, kalajengking raksasa, tyranosaurus, brontosaurus, atau Dewi Persik. Dumbledore kewalahan menghalau semua serangan itu, bahkan ketika para guru Hogwarts yang lain ikut membantu, ternyata tak membawa banyak perubahan.

Harry yang sedang berlindung di balik kursi penonton, dikagetkan oleh Mak Lampir yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Jurus Mak Lampir berpindah tempat adalah pada tingkat yang tinggi, sehingga tak seperti penyihir-penyihir amatir yang saat berpindah tempat harus memunculkan awan atau asap—-atau pada beberapa penyihir berpengalaman biasanya mengeluarkan suara plop atau bang, Mak Lampir bisa menghilang dan berpindah tempat tanpa mengeluarkan asap atau awan, tapi hanya sebuah efek suara yang berbunyi “ting!”.

“Akhirnya kita bisa bertemu juga,” ucap Mak Lampir, lalu ia tertawa selama tujuh menit.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa sepertinya seluruh penyihir jahat dan kuat selalu saja mengincarku?” Harry mengeluh sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Aku tidak ke sini untuk membunuhmu, tapi aku hanya ingin mengajakmu bergabung bersamaku,” Mak Lampir tertawa selama satu detik.

“Bergabung? Kenapa?”

“Baiklah, tentunya kau ingin mengetahui rahasia terbesar tentang dirimu, bukan begitu? Apakah kau sudah siap untuk mendengarkan siapa jati dirimu sebenarnya, Harry Potter?”

“Certainly.”

Mak Lampir kemudian tertawa selama dua puluh menit sebelum akhirnya memulai penjelasannya, “Kau… sebenarnya… kau adalah… Gerandong!” ia tertawa lagi.

Harry membenarkan kacamatanya, lalu menatap Mak Lampir dengan tenang, tidak ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya.

“Kenapa kau tidak terkejut sama sekali? Apakah kau sudah tahu sejak awal?” tanya Mak Lampir heran.

“Tentu saja aku sudah tahu. Kau bukan orang pertama yang menyebutku demikian. Aku sadar, aku memang Gerandong,” ucap Harry tenang, lalu seberkas senyum tersungging di bibirnya.

“Tidak mungkin! Mustahil…, seharusnya cuma aku saja yang tahu bahwa kau adalah jelmaan Gerandong! Siapa yang memberitahumu sebelum aku?” Mak Lampir tampak kebingungan.

Harry tersenyum penuh kemenangan, “Sudah sering terjadi. Setiap kali tante-tante atau wanita yang lebih tua berusaha mendekatiku, mereka selalu mengatakan bahwa aku adalah Gerandong.”

“Itu Berondong!” ucap Mak Lampir setengah berteriak dengan suara seraknya.

Harry Potter tampak terkejut, keringat menetes di pelipisnya, jantungnya berdetak semakin kencang, “Apa? Lalu… apa itu Gerandong?”

“Gerandong adalah monster terkuat yang pernah aku ciptakan. Dulu, setelah Gerandong dipenjara di kahyangan, aku menggunakan Ajian Pengunduh Sukma untuk melebur jiwa Gerandong dan membentuknya menjadi seorang anak kecil. Namun karena saat itu baskom ajaibku sedang mengalami gangguan koneksi, akhirnya terjadilah kesalahan yang menyebabkan kau terlempar ke Inggris dari kahyangan. Dan sekarang, adalah saatnya kau kembali padaku, Gerandong, Pangeran Berdarah Campuran: manusia dan siluman,” ucap Mak Lampir, kali ini tidak tertawa.

“Fitnah! Fitnah! Semua itu adalah kebohongan! Aku adalah Harry Potter, ayahku bernama James Potter!” ucap Harry sambil berteriak-teriak.

“Bukan! Ayahmu adalah Mardian Si Siluman Harimau!”

“Aaahhh!!!” Harry berteriak kesakitan, seperti ada sesuatu yang menyeruak keluar dari dalam dirinya. Tenggorokannya tercekat, kepalanya terasa berat bukan main, secara sekilas muncul potongan-potongan ingatannya di masa lalu sebagai Gerandong.

“Sekarang kau mengerti kan, kenapa kau bisa selamat dari mantra Voldemort ketika kau masih kecil dulu? Itu karena pada saat itu aku menggunakan kekuatanku untuk melindungimu dari jauh. Yang melindungimu bukan Lilly Potter, tetapi aku! Kau juga bisa berbicara parseltongue karena kau adalah setengah siluman!”

“Jangan dengarkan dia, Harry! Itu semua dusta!” tiba-tiba Dumbledore hinggap di samping Harry.

“Oh, rupanya kau, Ki Dumbi,” ucap Mak Lampir ketika melihat Dumbledore.

“Namaku Albus Dumbledore!” ucap Dumbledore sambil menatap Mak Lampir tajam.

“Lihatlah sekarang, apa yang terjadi pada murid kesayanganmu itu? Ia akan kembali ke wujud aslinya! Hahaha!”

Dumbledore memeriksa keadaan Harry yang sudah berlutut sambil terlihat menggigil. Ia dapat melihat rambut-rambut hitam yang tumbuh di sekujur tubuh Harry secara cepat: di kening, leher, tangan, dan betisnya. Bekas luka di keningnya juga tampak bercahaya dan menjadi semakin besar. Sementara itu Harry terus mengerang kesakitan, ia berguling-guling di atas lantai.

“Hentikan semua ini!” ucap Dumbledore pada Mak Lampir, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya dan sebuah sinar biru menyerang Mak Lampir.

Mak Lampir menggerakkan ujung tongkatnya dan menyerap sinar yang dikeluarkan Dumbledore, kemudan ia tertawa terkekeh-kekeh. Merasa kekuatannya tidak sebanding, Dumbledore mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia terlihat gugup dan berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau sudah tahu, kekuatan sihirmu masih jauh di bawahku. Kau tidak memiliki apapun untuk mengalahkanku!” ucap Mak Lampir sambil maju beberapa langkah.

Mak Lampir mengayunkan tongkatnya, lalu sebuah sinar merah terpancar dan menghantam kaki sebelah kanan Dumbledore, memaksanya untuk berlutut. Ia meringis menahan sakit, tapi kemudian ia menatap Mak Lampir dalam-dalam.

“Baiklah, Attachment Grandma. Kau memang memiliki segalanya, segala kekuatan yang tak kumiliki. Tapi tahukah kau? Aku sungguh kasihan padamu, karena ada sesuatu yang kumiliki…, tapi tidak pernah kau miliki seumur hidupmu…,” ucap Dumbledore dengan tenang.

Mak Lampir terdiam sejenak, ia menatap mata Dumbledore dengan tajam sambil berpikir. Tidak lama kemudian ia terkekeh geli, “Biar kutebak… Cinta? Kasih sayang? Persahabatan?”

“Bukan! Jenggot sepanjang satu meter!” Dumbledor mengambil tongkat sihirnya dan mengayunkannya ke arah jenggotnya sendiri, “Beardus Extensius!”

Tiba-tiba saja jenggot putih Dumbledore menjadi semakin panjang dan semakin kuat, lalu jenggot itu menjalar menuju ke arah Mak Lampir. Mak Lampir terkejut dengan apa yang dilihatnya, lalu jenggot itu pun membelit tubuh Mak Lampir dan mengangkatnya sampai empat meter di atas tanah. Mak Lampir menjerit kesakitan karena tubuhnya diremas oleh jenggot Dumbledore.

“Sekarang, menyerahlah dan kembalikan Harry Potter ke wujudnya semula!” ancam Dumbledore sambil mengacungkan tongkat sihirnya.

“Itulah yang sedang kulakukan, bodoh! Wujud asli Harry Potter adalah Gerandong!” suara Mak Lampir terdengar agak terputus-putus.

Dumbledore mengerutkan keningnya, dengan berbuat demikian ia membuat jenggotnya lebih erat lagi mengikat Mak Lampir. Mak Lampir berteriak-teriak kesakitan, sementara Harry sudah menjadi setengah manusia berbulu lebat.

Dalam keadaan yang menegangkan tersebut, tiba-tiba terdengar sebuah suara ledakan, dan tempat itu pun terasa berguncang dengan hebatnya. Dumbledore kehilangan keseimbangan, sehingga Mak Lampir terjatuh dari ikatannya. Semua orang di tempat itu menerka-nerka dari mana asal ledakan itu. Awalnya mereka mengira itu adalah salah satu ledakan yang berasal dari pertarungan antara murid-murid Hogwarts dan murid-murid Padepokan Merapi, tapi ternyata ledakan itu berasal dari sebuah bom yang meledak di pintu masuk stadion.

Sekonyong-konyong sekelompok orang berbaju gamis dan berbaju koko—beberapa di antaranya memakai sorban—masuk ke tengah-tengah lapangan. Mereka membawa golok atau bambu runcing dan ada juga yang membawa bendera yang diacung-acungkan ke atas. Di tengah lapangan mereka membuat formasi, dan salah seorang pemimpinnya mulai berorasi dengan memakai pengeras suara.

“Kami umumkan pada semua yang berada di sini, bahwa tempat ini akan kami tutup dan segel karena merupakan tempat praktek ilmu sihir! Kalian semua para penyihir adalah orang-orang musyrik yang bekerja sama dengan setan, oleh karena itu kami tidak akan segan-segan untuk melakukan tindakan apapun yang diangap perlu!“

Tiba-tiba saja seorang siswa Padepokan Merapi yang telah berubah menjadi T-Rex berusaha menyerang orang yang sedang berorasi tersebut dengan cara mencakarnya. Laki-laki itu terpental beberapa meter, tapi kemudian bangkit kembali. Ia memperlihatkan tubuhnya yang sama sekali tak menunjukkan luka atau cedera apapun, lalu ia tersenyum lebar.

“Percuma saja kalian menyerang kami! Kami kebal terhadap senjata tajam dan senjata api! Karena kami adalaaah… Pasukan Berani Kebal!” ucap orang itu dengan bangga. Kemudian masing-masing anggotanya yang lain mempertontonkan kemampuan kebal senjata mereka dengan cara membacok dan menusuk tubuh mereka sendiri yang tentunya tak menimbulkan luka sedikitpun.

Ternyata mereka berasal dari PBK atau Pasukan Berani Kebal, salah satu kelompok bersenjata yang sebenarnya berniat untuk pergi ke Gaza pada saat terjadi konflik dengan Israel beberapa minggu lalu, namun karena mereka ditolak oleh Palestina, akhirnya mereka memutuskan untuk menggerebek Padepokan Merapi yang terbukti sebagai tempat praktek sihir dan perdukunan.

Seorang penyihir dari Padepokan Merapi menggunakan tongkat sihirnya untuk menyerang salah seorang anggota PBK dengan sebuah bola api yang cukup besar. Anggota PBK yang memakai sorban itu memukul bola api tersebut dan melenyapkannya, sekali lagi ia membacok tubuhnya sendiri untuk memperlihatkan kekebalannya, “Ilmu sihir kalian tidak akan mempan terhadap kami. Tapi jangan disalahartikan, imu kebal kami bukan ilmu sihir, soalnya kami membaca doa dulu. Hiaaa!” orang itu kemudian berlari dan bertarung dengan penyihir Padepokan Merapi yang tadi menyerangnya.

Di sisi lain, Dumbledore memanfaatkan kekacauan itu untuk menggendong Harry dan menyelamatkannya, namun Mak Lampir menyadari hal itu, ia segera menghadang Dumbledore yang jenggotnya sudah kembali ke bentuk semula.

“Kau tak akan pergi membawa anak itu!” tukas Mak Lampir.

“Tidak. Tidak akan kubiarkan kau merusak masa depan anak ini seperti yang kau lakukan kepadaku dulu!” ujar Dumbledore berang.

“Dulu?”

“Ya, dulu! Ketika aku masih sangat kecil dan kau sedang bertamasya keliling Eropa, kau yang saat itu sudah setua dan sejelek sekarang, tiba-tiba saja menghampiriku. Kau melakukan hal yang sangat buruk kepadaku, sehingga semenjak saat itu aku kehilangan rasa tertarik terhadap perempuan, semenjak saat itulah aku menjadi gay! Dan sekarang, banyak penggemar Harry Potter yang menghakimi aku!” Dumbledore terlihat semakin berang sekaligus sedih.

“Itu bukan urusanku! Sekarang berikan anak itu kepadaku…!”

Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar terjadi tepat di samping Mak Lampir, sehingga ia terpental sampai beberapa meter. Mak Lampir terbatuk-batuk dan berusaha bangkit, namun seketika itu juga tiga orang anggota PBK menyerang Mak Lampir dan cukup membuat Mak Lampir kewalahan. Melihat kejadian itu, Dumbledore tidak membuang-buang kesempatan, ia segera menghilang bersama Harry ke dalam asap hijau yang ia ciptakan.

Epilogue

Harry, Hermione, dan Ron duduk dengan tenang di dalam kereta sihir yang akan membawa mereka kembali ke Hogwarts. Masing-masing dari mereka tampak begitu kelelahan, bahkan Ron dan Hermione sempat tertidur beberapa jam yang lalu. Namun tidak demikian dengan Harry, ia tidak sempat tidur, karena ia harus terus menerus mencukur rambut-rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Dumbledore telah meyakinkan dirinya bahwa kata-kata Mak Lampir mengenai dirinya sebagai Gerandong adalah kebohongan belaka, dan rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya itu adalah semacam kutukan yang belum ditemukan penangkalnya. Oleh karena itu sampai penangkalnya ditemukan, Harry harus terus membawa alat cukur kemanapun ia pergi.

“Hormon, apa kau tahu mantra untuk membebaskanku dari kutukan ini?”

Plak.

Kunjungan ke Indonesia ternyata telah membawa pengaruh besar bagi para murid Hogwarts. Selain mereka telah menyaksikan sendiri sisi gelap dan anarkis dari dunia sihir, mereka juga mendapatkan pengalaman dan oleh-oleh yang unik. Seperti misalnya Ron yang menyelundupkan tuyul di dalam tasnya, atau Si Kembar Weasley yang berhasil menguasai ilmu babi ngepet: sepanjang perjalanan pulang George menjelma menjadi babi ngepet dan berkeliaran di seluruh gerbong, sementara Fred dengan sabar menjaga lilin—-dan terkadang dengan usil sengaja meniupnya.

Sementara itu, di gerbong utama, para guru masih sibuk berusaha mengembalikan tubuh Severus Snape ke dalam bentuknya semula. Sampai sejauh ini, mereka berhasil memperbaiki 90% dari susunan tubuh Snape, namun beberapa bagian masih sulit untuk diperbaiki; telinganya masih ada di pantat dan letak ibu jari tangannya masih tertukar dengan jari telunjuk. Mereka mengakui, bahwa mantra amburadul yang digunakan oleh Mak Lampir sangat berbeda dengan mantra-mantra sejenis yang mereka ketahui, sehingga untuk menghilangkan kutukannya mereka harus menggunakan mantra yang lokal pula. Dumbledore masih sibuk meraba-raba sekujur tubuh Snape untuk mencari bagian yang salah—-dan Snape menatapnya dengan perasaan terganggu—-sementara McGonagall masih terus membolak-balik halaman buku Mantrapedia Indonesia.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Dumbledore.

“…yes,” jawab Snape singkat dengan tatapan matanya yang dingin dan wajah yang pucat.

“Jangan merasa terganggu. Kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum buku Harry Potter bagian selanjutnya terbit,” ucap Dumbledore, “atau Voldemort akan menertawakan kita.”

“…yes.”

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on 24/04/2010 in Hiburan

 

6 responses to “Harry Potter And The Attachment Grandma (Part 2)

  1. A.Hdt

    26/04/2010 at 4:21 AM

    hahaha

     
  2. hestin

    26/04/2010 at 4:39 AM

    whahahaha babi ngepet? di tiup lilinya? hahaha ada ada aja ahhhh

     
    • alifahrin45

      26/04/2010 at 10:23 AM

      hahaha…..
      part 1 nya baca juga ea?

       
  3. kim taecyeon

    09/11/2010 at 10:22 AM

    wahahahhaha..lucu bgt….. cuman sampai part 2 ya?? ahahaha..::ngakak::

     
  4. zefan markus

    02/06/2011 at 5:39 AM

    tetapi lumayan bagus kok

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: